Inspirasi kemajuan teknologi

Published on December 13th, 2016 | by Redaksi

Waspadai Profesi yang akan Tergerus oleh Kemajuan Teknologi

Kemajuan Teknologi | Dari 702 macam profesi, ternyata banyak yang tingkat risiko tergantikan oleh komputerisasi sangat tinggi. Kebanyakan memang profesi yang mengandalkan pekerjaan repetitif seperti kasir, call center, buruh dan pengawas di pabrik, dan bermacam pekerjaan yang bersifat repetitif lainnya.

Advertisement
Advertisement

Yang agak mengagetkan, profesi Akuntan masuk dalam daftar risiko tinggi tergantikan oleh komputer. Prof. Philomena Leung, pakar Akuntansi dari Macquarie University menimpali bahwa prodi Akuntansi yang masih menekankan pada materi kuliah model lama akan dilibas perkembangan teknologi dan perubahan zaman. Mengapa?

Menurut Prof. Leung, para pakar dan konsultan di negara maju mulai mengingatkan bahwa laporan yang hanya membahas aspek keuangan saja sudah tidak memadai. Investor, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya butuh laporan yang lebih menyeluruh.

Kini orang mulai bicara soal Integrated Reporting yang lebih luas dari financial reporting yang kita kenal saat ini. Perusahaan harus bisa melaporkan proses usahanya dari sisi sosial maupun ekologis.

Advertisement
Prof. Philomena Leung, pakar Akuntansi (kiri) dan Prof. Julian Knowles, ahli di bidang creative majors

Prof. Philomena Leung, pakar Akuntansi (kiri) dan Prof. Julian Knowles, ahli di bidang creative majors.

Prof. Leung mengingatkan bahwa universitas tak punya pilihan selain berbenah. Jika tidak, banyak skill yang dimiliki para akuntan akan segera usang (obsolete). Salah satu solusinya adalah dengan merombak kurikulum program studi Akuntansi dan menggantinya dengan course structure baru yang berwawasan jauh kedepan.

Meskipun baru beberapa negara Eropa yang menggunakan pelaporan seperti ini, Macquarie University di Sydney sudah ancang-ancang mengganti beberapa mata kuliahnya dengan berbagai materi yang lebih menjawab persoalan di masa depan. Itu sebabnya pelajar yang berminat menempuh jurusan ini sebaiknya mulai cermat memilih universitas.

Pada kesempatan yang sama, Ina Liem menyinggung fenomena Big Data yang dampaknya akan mengubah berbagai aspek kehidupan kita. Sejak publik mengunggah teks, gambar, maupun video ke berbagai platform seperti WordPress, Instagram dan Youtube, jumlah data meningkat luar biasa. Jika diolah, data bisa mengungkap pengetahuan baru yang tak pernah terlintas di benak manusia.

Big Data melahirkan kebutuhan untuk mengolah data. Lahirlah istilah Data Science, yakni keahlian khusus perpaduan antara computer science, statistics, dan mathematics. Beberapa universitas mulai menawarkan prodi ini. Namun menurut survey MacKinsey, dunia tetap akan mengalami krisis data scientist. Amerika saja akan kekurangan hampir 200 ribu ahli di bidang ini di tahun 2018.

Karena perannya sangat penting namun jumlahnya masih sedikit, banyak perusahaan besar menawarkan handsome salary bagi yang memenuhi syarat. Tak pelak, Harvard Business Review menjuluki profesi Data Scientist sebagai “the Sexiest Job of the 21st Century”.

Ina mengingatkan, pemanfaatan big data bukan hanya meningkatkan produktivitas dan laba perusahaan, tetapi juga bisa mengurangi kebutuhan akan tenaga kerja. Beberapa profesi dan bisnis bahkan akan lenyap terkena dampaknya.

Oleh sebab itu wajar jika prodi Data Science akan menjadi jurusan yang favorit. Saat ini pada umumnya universitas menawarkannya di tingkat Master (S2). Meskipun demikian, Macquarie University sudah menerima mahasiswa Data Science di tingkat undergraduate (S1).

Lanjutkan Membaca >

Suka artikel ini?
Advertisement
Advertisement Suka artikel ini?

Tags:

Pages: 1 2


About the Author

Redaksi

Tim redaksi jogjastudent.com | Portal informasi Mahasiswa Yogyakarta, email: [email protected]



Back to Top ↑

error: Content is protected !!
UA-51666407-2