Mahasiswa sejarah-copy-paste

Published on November 21st, 2016 | by Redaksi

Sejarah Copy Paste yang Harus Kamu Tahu

Seputar copy paste (copas) pada zaman ini sangat memudahkan semua orang terutama para pelajar dan mahasiswa yang malas mengetik.

Advertisement
Advertisement

Istilah paste dekat sekali dengan Pasta. Sejenis pasta tertentu dipakai oleh para publisher kuno untuk mengedit bacaan sebelum diterbitkan. Caranya dengan menggunting, lalu menempelkannya pada bagian lain. Untuk melekatkannya, mereka menggunakan media pasta. Tidak hanya jenis pastanya yang unik, tapi juga jenis guntingnya. Mulut gunting yang dipakai panjangnya ada yang sampai 8,5 inchi.

Di era komputer

Semenjak komputer mulai populer, gunting dan pasta ini mulai ditinggalkan. Namun tidak langsung mudah seperti sekarang ini. Di era 60-an, sederet command panjang harus diketik untuk meng-cop sebuah tulisan lalu mempaste di tempat tertentu.

Sedikit perubahan di era 1974-1975, seorang karyawan Xerox bernama Lawrence G. Tesler menemukan cara copy-paste yang lebih sederhana. Disusul kemudian oleh Apple (1981) yang mulai memunculkan penggunaan tombol ctrl C untuk mengcopy, ctrl X untuk Cut , dan ctrl V untuk mem-paste. Teknologi tersebut semakin lengkap dengan munculnya ctrl Z untuk pembatalan (undo). Windows pun mengadopsi teknologi hasil temuan Apple tersebut. Maka jadilah proses copy-paste menjadi sangat mudah seperti yang hadir di depan meja kamu sekarang ini.

Advertisement

Copy paste dan target cepat

Ingin mencapai target secepat mungkin, tanpa peduli proses yang dijalani itu haram atau harum. Maka terjadilah kejahatan copy-paste. Aneka gelar didapatkan dengan cepat, semisal saat pengerjaan skripsi. Pada usia muda sudah berderet title, setumpuk uang, dan berkuasa. Selalu duduk di deretan paling depan di berbagai pertemuan. Mereka terkenal namun hatinya cemar. Membenarkan energi jahat meranggas dan menampar suara hati.

Ada beberapa contoh kejahatan copy paste. Apa saja itu?

Dari hasil survey yang dirilis oleh koran The Chronicle of Higher Education edisi 20 Januari 2009: 49 persen dari 1.014 mahasiswa universitas Cambridge yang tersohor, terlibat penjiplakan. Di Indonesia masih belum disurvey, namun sudah muncul beberapa kasus, seperti seorang guru besar Universitas Parahyangan dalam tulisannya berjudul “RI as a New Middle Power “ (Jakarta Post 4/2/2010) ternyata produk copy paste salah satu jurnal di Australia bertitel “Middle Power: Concept in Australian Foreign Policy”.

Pada tahun 2000, hal serupa terjadi pada disertasi salah seorang dosen UGM. Delapan puluh persen isi disertasinya copy-paste seorang peneliti LIPI. Baru ketahuan beberapa tahun setelah disertasi itu diterbitkan sebagai buku.

Dilema dan solusi copy-paste

Copy paste semakin hari semakin dimaklumi. Soal keaslian semakin sulit dicari. Apalagi untuk yang karya tulis, atau karya digital berbahasa Indonesia. Untuk yang berbahasa Inggris lebih mudah. Disamping data base sudah ada, software anti plagiarism pun bisa di download free. Cara yang paling sederhana adalah dengan mem-paste sebaris kalimat ke google search. Upaya ini masih belum absolut. Sebab situs teratas belum tentu situs pemilik kalimat tersebut. Bisa jadi, kamu kalah dulu dalam meng-copy paste. Solusi terbaik, tetap bukan pada media namun pada sikap mental.

Jadi, ternyata copy-paste punya sisi positif dan negatif nya. Semua itu kembali kepada diri kita masing-masing.

Artikel ini dimuat ulang dari laman youngscorner.blogspot.co.id dan diedit ulang oleh Frisa Pangestiko

Suka artikel ini?
Advertisement
Advertisement Suka artikel ini?

Tags: ,


About the Author

Redaksi

Tim redaksi jogjastudent.com | Portal informasi Mahasiswa Yogyakarta, email: [email protected]



Back to Top ↑

error: Content is protected !!
UA-51666407-2