Inspirasi rochmat-wahab-rektor-uny

Published on December 19th, 2016 | by Redaksi

Mengharukan Lulus SD Jadi Buruh Tani, Kini ia Jadi Rektor UNY

Keinginan untuk melanjutkan sekolah sangat kuat dalam diri Rochmat. Tahun 1971 itu ada sekolah baru yang akhirnya menarik minat Rochmat. Sekolah baru yang cukup megah di zamannya tersebut berlokasi di Bareng, Jombang, yang berjalak 12 km dari rumah Rochmat yang berada di Desa Blimbing, kecamatan Kesamben.

Advertisement
Advertisement

Sekolah tersebut adalah sekolah Pendidikan Guru Agama 4 Tahun Jombang yang kini telah berubah nama menjadi MTSN Bareng. Setiap hari, Rochmat membonceng sepeda temannya untuk berangkat sekolah karena tidak memiliki sepeda menempuh jarak tersebut.

Rochmat bergantian dengan temannya dalam mengayuh sepeda. Kadang bergiliran ketika berangkat dan pulang, atau bergiliran sembari berhenti sejenak di tengah jalan ketika salah satu merasa kelelahan mengayuh. Hal ini dijalani oleh Rochmat selama pendidikan guru agama.

Untuk membayar biaya sekolah, Rochmat harus mencari uang sendiri karena sang ayah tidak setuju dengan keputusannya bersekolah. Pada awalnya Rochmat bekerja kepada adik sang nenek yang berprofesi sebagai lurah.

Advertisement

Setiap hari, Rochmat mencangkul kebun tempatnya bekerja untuk membersihkan rumput dan memperindah pekarangan rumah. Atas kerja kerasnya tersebut Rochmat dibiayai untuk membayar sekolah dan membeli buku tulis maupun buku pelajaran.

Akan tetapi, ada banyak teman dan tetangga Rochmat yang merasa iri dengan Rochmat yang kurang mampu namun bisa mengenyam bangku sekolah. Rochmat acapkali dicibir karena dianggap menggunakan kekuasaan adik sang nenek sebagai lurah untuk memperoleh hal tersebut. “Saya tidak terima. Dikira saya minta saja padahal kerja. Saya berhenti,” ujarnya.

Cibiran teman dan tetangga, mendorong Rochmat Wahab memilih bekerja sebagai buruh tani untuk memenuhi kebutuhannya. Pekerjaan tersebut dilakoninya selepas pulang sekolah maupun di hari libur.

Seringkali karena Rochmat bekerja dengan giat dan cukup lama, sang tuan tanah memberikan uang lebih yang digunakannya untuk membeli seragam, buku, celana dan sepatu untuk bersekolah. “Saya mocol serabutan. Tebu, padi, semua saya garap,” ungkap Prof Rochmat sambil menepuk nepuk bahu penulis.

Selain bekerja sebagai buruh tani, Rochmat juga berdagang setiap harinya. Tiap pukul empat pagi, Rochmat membantu sang tuan tanah mengangkut beras dari Jombang menuju ke pasar Mojokerto menggunakan truk untuk dijual.

Pulang dari pasar Mojokerto, truk tersebut membeli bahan komoditas lainnya untuk dijual kembali di Jombang. Keuntungan yang didapatkan Rochmat dari transaksi dagang ini juga digunakan untuk membeli seragam, buku, maupun kaos santai untuk tidur dan bermain dengan temannya sehari-hari.

Sang ayah tidak mengetahui pekerjaan Rochmat sama sekali. Rochmat memberi tahu pada ayahnya bahwa biaya sekolah dan seragam serta buku yang dimilikinya semuanya merupakan hadiah yang diberikan di sekolah karena prestasinya.

Kini rektor Universitas Negeri Yogyakarta Prof Dr Rochmat Wahab MPd MA akan segera mengakhiri masa jabatannya yang diembannya selama 2 periode.

Artikel ini dilansir dari laman Krjogja.com dan ditulis oleh Ilham Dary

Suka artikel ini?
Advertisement
Advertisement Suka artikel ini?

Tags: , ,

Pages: 1 2


About the Author

Redaksi

Tim redaksi jogjastudent.com | Portal informasi Mahasiswa Yogyakarta, email: [email protected]



Back to Top ↑

error: Content is protected !!
UA-51666407-2