Inspirasi rochmat-wahab-rektor-uny

Published on December 19th, 2016 | by Redaksi

Mengharukan Lulus SD Jadi Buruh Tani, Kini ia Jadi Rektor UNY

Terlahir di Jombang, 10 Januari 1957, Rochmat Wahab. Rektor UNY tersebut dibesarkan dalam asuhan nenek dari garis keturunan ayah. Rochmat tidak pernah merasakan hangatnya kasih sayang ibu karena sang ibu sudah tak ada di sisinya. Kasih sayang sang ayah juga jarang dirasakan karena sang Ayah juga telah memiliki istri lagi.

Advertisement
Advertisement

Bersama nenek, Rochmat tinggal dalam rumah yang cukup kecil di daerah desa Blimbing, Jombang, Jawa Timur. Rumah tersebut dihuni Rochmat, sang nenek, bersama dengan tiga paman dan bibinya. Setiap hari, masing-masing berbagi tugas rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan hidup seisi rumah. “Mbah kakung pun sudah ngga ada,” ujarnya.

Tahun 1971, Rochmat mulai mengenyam bangku sekolah dasar. SD Karangprabon, Jombang menjadi sekolah yang dienyam Rochmat. Disana Rochmat menjadi siswa yang belajar dengan sungguh-sungguh dan cukup berprestasi.

Saat kelas 6 SD, Rochmat diberi amanah oleh gurunya untuk menjadi ketua kelas dan mendapatkan peringkat dua dalam ujian kelulusannya. Sembari bersekolah di SD, Rochmat juga mengenyam pendidikan di Madrasah Diniyah untuk belajar mengaji di sore harinya.

Advertisement

Masa SD Rochmat diwarnai dengan sifat dirinya yang cukup pendiam dan tidak banyak bermain dengan teman-temannya. Seringkali pada jam istirahat dan ketika jam kosong saat guru berhalangan hadir, Rochmat menghabiskan waktunya dengan membaca buku dan mengerjakan soal calistung.

Saat dirinya kelas 5 SD, guru SD Rochmat menawarkan kepadanya untuk lompat kelas dan langsung mengikuti ujian kelulusan SD (Ujian Negara). Pada waktu itu, mata pelajaran yang diujikan adalah berhitung, Bahasa Indonesia, dan pengetahuan umum.

Guru SD Rochmat tersebut memiliki keyakinan bahwa Rochmat memiliki kemampuan lebih dan mampu untuk lulus ujian tersebut saat itu juga. Namun Rochmat menolak karena masih ingin mendalami pengetahuan dan mencari pengalaman bersekolah.

Keinginan Rochmat untuk mendalami ilmu itulah yang kemudian difasilitasi oleh sekolah dengan memberikan bimbingan khusus kepadanya dan tiga teman lainnya yang juga memiliki kelebihan di bidang akademis. Mereka dipisahkan dari teman seangkatannya yang lain dan dibina oleh dua guru khusus.

Di pembinaan itu dirinya dibekali pengetahuan dan tugas yang lebih kompleks dari teman-temannya. “Saya ingat betul itu. Dua guru mengajar secara intens dan spesial. Saya tersanjung dan alhamdulillah bisa jadi rangking dua karena bimbingan guru saya itu. Padahal yang tidak lulus ujian pada saat itu ada separuh angkatan lebih,” ungkapnya dengan haru.

“Saya tidak pernah tahu tentang Ibu saya. Tahu-tahu umur satu tahun sudah ngga punya ibu,” ujarnya.

Sesudah lulus dari sekolah dasar, Rochmat Wahab kecil menghadapi dilema yang luar biasa. Teman-teman sekolah Rochmat mengenyam pendidikan lanjutan di berbagai sekolah favorit dalam dan luar kota Jombang.

Ketika Rochmat menanyakan dan bercerita ke ayahnya tentang keinginannya untuk bersekolah, sang ayah justru menginginkan Rochmat untuk ikut paman kerja di bengkel dan menunda mimpinya tersebut.

“Teman saya Mubin di sekolah teknik, Nasikah di sekolah Kristen top di Surabaya. Saya masih meraba-raba. Disuruh ikut mbengkel kayak-kakak saya, saya tidak mau! ” ungkapnya.

Lanjutkan Membaca >

Suka artikel ini?
Advertisement
Advertisement Suka artikel ini?

Tags: , ,

Pages: 1 2


About the Author

Redaksi

Tim redaksi jogjastudent.com | Portal informasi Mahasiswa Yogyakarta, email: [email protected]



Back to Top ↑

error: Content is protected !!
UA-51666407-2