Jogja kisah-sultan-xi-menolak-kerjasama-dengan-belanda

Published on January 2nd, 2017 | by Redaksi

Kisah Keraton Yogyakarta yang Hampir Diobrak-abrik Tank Belanda

Pada 68 tahun lampau, Yogyakarta yang kala itu jadi ibu kota republik, diinvasi serdadu Belanda. Selama ini kita mengenal peristiwa itu sebagai Agresi Militer II yang operasinya berkode “Operatie Kraai” (Operasi Gagak).

Advertisement
Advertisement

Tepatnya pada 19 Desember 1948, Belanda berniat melenyapkan pemerintahan Republik Indonesia (RI) dari muka dunia via Blitzkrieg alias serangan kilat ala Nazi Jerman. Hasilnya bisa dibilang gilang-gemilang karena tak butuh 24 jam, Yogya sudah jatuh ke tangan Belanda.

Langkah berikutnya untuk menyingkirkan pemerintah RI secara total selain penangkapan Presiden dan Wakil Presiden Soekarno-Mohammad Hatta, adalah mendirikan pemerintahan federal buatan Belanda. Nah, untuk menggulirkannya, Belanda butuh tokoh yang paling dihormati di Yogya.

Belanda Butuh Sri Sultan “Henkie” Hamengkubuwono

Advertisement

Siapa lagi kalau bukan Sri Sultan Hamengkubuwono (HB) IX. Sialnya, Belanda salah perhitungan di sini. Dikira bakal mudah merayu layaknya Sultan Hamid II, Belanda gagal total mengajak Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat itu bergabung dengan Belanda.

Tapi ya Belanda mau apa lagi. Toh mereka tak mendapat restu dari keluarga Kerajaan Belanda, untuk “mengapa-apakan” Sultan HB IX yang dikenal dekat dengan Putri (yang di kemudian hari jadi ratu) Juliana.

Namun ada lho, kisahnya Legercommandant (Panglima Tertinggi Hindia Belanda) Letjen Simon Spoor yang nyaris mengobrak-abrik Keraton Yogyayakarto dan mengancam nyawa Sultan “Henkie” – sebutan Sultan HB IX saat masih bersekolah di Belanda.

Lanjutkan Membaca >

Suka artikel ini?
Advertisement
Advertisement Suka artikel ini?

Tags:

Pages: 1 2


About the Author

Redaksi

Tim redaksi jogjastudent.com | Portal informasi Mahasiswa Yogyakarta, email: [email protected]



Back to Top ↑

error: Content is protected !!
UA-51666407-2