Mahasiswa mahasiswa-tempo-dulu

Published on January 2nd, 2017 | by Redaksi

Betapa Sulitnya Mahasiswa Tempo Dulu Ketika Bikin Skripsi Dibanding Sekarang

Mahasiswa memang punya masalahnya sendiri-sendiri saat mengerjakan tugas akhir. Tapi ada yang bilang masalah yang dihadapi berbeda tiap zaman. Mahasiswa tempo dulu yang sekitar satu sampai dua dekade ke belakang punya masalah yang beda dengan mahasiswa kekinian ketika mengerjakan skripsi dan enggak bakal dirasakan zaman sekarang.

Advertisement
Advertisement

Misalnya seperti rebutan buku di perpustakaan. Perpustakaan kampus itu tempat paling menyenangkan buat mengerjakan skripsi. Soalnya banyak banget literatur yang tersedia di sana. Tapi susahnya pas buku yang dicari sedikit terus rebutan sama teman.

“Kalau mau beli, sayang uang kirimannya. Mending buat makan sama disimpan buat fotocopi pas mau diujikan. Beda seperti sekarang di mana pas mengerjakan skripsi bisa lihat materi di internet. Semua ada dan cepat pula,” terang Drs. Tri Atsuti, alumni FMIPA UNY tahun 1988.

Ada pula kisah tentang mahasiswa jadul yang kudu antri menggunakan mesin ketik. Teguh Suryana, alumni FEB UGM tahun 1985 mengisahkan bahwa kalau bukan orang berpunya, susah bisa beli mesin ketik. “Jadinya cara yang paling mudah adalah menyewa mesin ketik atau mengerjakan skripsi di rental mesin ketik. Sambil bawa termos buat bikin teh atau kopi zaman segitu,” kenang pengusaha kuliner ini.

Advertisement

Menjelang tahun 2000-an, ketika komputer sudah masuk, mahasiswa Jogja rata-rata juga masih mengerjakan skripsi di rental. “Beda seperti sekarang tinggal pakai laptop yang dijual murah dan mengerjakannya di tempat yang wifi-nya ngebut. Beda banget lah,” kata Dian Mahendra, alumni FISIPOL UGM angkatan 2002.

BACA JUGA: 7 Judul Skripsi yang Kocak, Nomor 5 Paling Bikin Ngakak!

Laku prihatin juga sering dilakukan mahasiswa angkatan 80-an sampai 90-an. Rata-rata dihadapkan pada dua pilihan sulit yang haris mereka ambil. Aris Pramana, alumni Pendidikan Geografi UNY angkatan 83 membeberkan kisah ini. “Kalau nyetak skripsi, pilihannya ya enggak makan, Kalau makan, skripsinya enggak dicetak. Soalnya uang kiriman kan ngepas banget lah waktu itu,” ceritanya.

Sumber

Suka artikel ini?
Advertisement
Advertisement Suka artikel ini?

Tags: ,


About the Author

Redaksi

Tim redaksi jogjastudent.com | Portal informasi Mahasiswa Yogyakarta, email: [email protected]



Back to Top ↑

error: Content is protected !!
UA-51666407-2