Mahasiswa bem-uny

Published on November 22nd, 2016 | by Fajar Nurmanto

Apa Pentingnya Jadi Aktivis Kampus?

Kita akan menemukan dunia yang penuh variasi saat pertama memasuki dunia perkuliahan. Ada berbagai macam kegiatan yang ditawarkan oleh lingkungan kampus. Mulai dari riset ilmiah hingga banyaknya aktivitas untuk pengembangan diri. Menjajaki semuanya adalah opsi yang menarik untuk diambil.

Advertisement
Advertisement

Ada persamaan dari semua aktivitas yang ditawarkan tersebut. Semua aktivitas membutuhkan totalitas untuk memetik hasil maksimal. Aktif bergerak melakukan tindakan. Mungkin dari sinilah julukan “aktivis” muncul.

Menjadi aktivis kampus terdengar mempesona. Mentereng aktif sebagai mahasiswa yang kritis dan selalu tampak sibuk. Senantiasa bertempur adu gagasan dan tindakan. Namun siapa yang sangka menjadi aktivis kadang merupa menjadi pedang bermata dua.

mahasiswa-aktivis-kampus

instagram.com/mahasiswa_ampera

Advertisement

Ada yang bilang seorang aktivis lekat kaitannya dengan mahasiswa yang kuliah lama. Terlalu sibuk berkegiatan sampai lupa kewajiban akademik. Banyak yang mengira hobi aktivis adalah menerabas waktu kuliah ideal yang empat tahun. Aktivis kampus adalah mahasiswa yang suka koar-koar dan ngendon lama di ruang sekre sampai enam generasi maba hadir.

Ada yang melemparkan cemoohan. Percuma jadi aktivis kampus kalau tanggung jawab terbengkalai. Apa tanggung jawab yang dimaksud? Tak lain dan tak bukan adalah menghadirkan selembar ijazah kepada orang tua yang telah membiayai semua kebutuhannya tanpa terkecuali.

Bisa jadi anggapan tersebut benar adanya. Namun sebagai mahasiswa yang punya nalar kritis, gak semestinya kita langsung percaya. Ingat bahwa beberapa nama besar justru lahir dari kegiatan aktivisme. Sebut saja Budiman Sudjatmiko yang jadi politisi tersohor yang kini bergabung dengan PDI Perjuangan. Jangan lupa, dulu dia adalah ketua pertama Partai Rakyat Demokratik.

Emang Partai Rakyat Demokratik itu apaan sih? Coba gugling dulu. Ingat bahwa malas gugling berpangkal pada lulus lama.

Namun jangan heran kalau ada mahasiswa yang kepincut dengan aktivis. Siapa tahan melihat pesona dialektika yang aktivis tawarkan? Mengupas diskursus sampai tuntas atau jelek-jeleknya bingung mengambil sikap karena logikanya sudah mentok.

Lanjutkan Membaca >

Suka artikel ini?
Advertisement
Advertisement Suka artikel ini?

Tags:

Pages: 1 2


About the Author

Fajar Nurmanto

Penulis dapat kamu temui untuk berbincang, kapanpun di @yojarto atau [email protected]



Back to Top ↑

error: Content is protected !!
UA-51666407-2