Jogja upacara adat

Published on July 13th, 2016 | by Redaksi

10 Upacara Adat yang Unik Ini Hanya Ada di Yogyakarta

5. Upacara Siraman Pusaka

Upacara siraman pustaka

Advertisement
Advertisement

Upacara Siraman Pusaka adalah Upacara Adat Kraton Yogyakarta membersihkan segala bentuk pusaka yang menjadi milik kraton. Tradisi ini diadakan pada setiap bulan Suro pada hari Jum;at Kliwon atau Selasa Kliwon dari pagi hingga siang hari yang biasanya dilakukan selama 2 hari.

Adapun bentuk pusaka yang dibersihkan diantaranya Tombak, Keris, Pedang, Kereta, Ampilan (banyak dhalang sawunggaling) dan lain sebagainya. Pusaka yang dianggap paling penting oleeh Kraton Yogyakarta adalah Tombak K.K Ageng Plered, Keris K.K Ageng Sengkelat, Kereta Kuda Nyai Jimat, Khusus Sri Sultan membersihkan K.K Ageng Plered dan Kyai Ageng Sengkelat. Setelah itu baru pusaka yang lainnya dibersihkan oleh para pengeran, Wayah Dalem dan Bupati.

6. Upacara Saparan (Bekakak)

Upacara saparan

Advertisement

Desa Ambarketawang, yang terletak di Kecamatan Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki tradisi khas berupa Upacara Adat Yogyakarta Penyembelihan Bekakak. Yaitu penyembelihan sepasang boneka temanten (pengantin jawa) muda yang terbuat dari tepung ketan yang dilaksanakan setahun sekali dalam bulan Sapar (kalender jawa).

Ketika pembangunan Kraton Yogyakarta berlangsung, para abdi dalem tinggal di pesanggrahan Ambarketawang kecuali Ki Wirasuta yang memilih tinggal di sebuah gua di Gunung Gamping. Pada bulan purnama antara tanggal 10 dan 15, pada hari Jum’at terjadi musibah. Gunung Gamping longsor, Ki Wirasuta dan keluarganya tertimpa longsoran dan dinyatakan hilang karena jasadnya tidak ditemukan. Hilangnya Ki Wirasuta dan keluarganya di Gunung Gamping menimbulkan keyakinan pada masyarakat sekitar bahwa jiwa dan arwah Ki Wirasuta tetap ada di Gunung Gamping.

Upacara Saparan semula bertujuan untuk menghormati kesetiaan Ki Wirasuta dan Nyi Wirasuta kepada Sri Sultan Hamengkubuana I tetapi kemudian berubah dan dimaksudkan untuk mendapatkan keselamatan bagi penduduk yang mengambil Batu Gamping agar terhindar dari bencana. Sebab pengambilan Batu Gamping cukup sulit dan berbahaya.

7. Upacara Nguras Enceh

Uparaca nguras enceh

Upacara Nguras Enceh adalah tradisi ritual tahunan yang dilaksanakan setiap hari Jum’at Kliwon atau Selasa Kliwon pada bulan Sura (penanggalan jawa). Ritual ini berupa membersihkan Gentong yang berada di makam raja-raja Jawa di Imogiri, Bantul, D.I Yogyakarta. Upacara ini dimaknai sebagai upaya membersihkan diri dari hati berbagai hal kotor.

Sementara itu Ritual 1 Sura lainnya diperingati oleh masyarakat Jawa lainnya seperti Tradisi Sedekah Laut di pesisir-pesisir Pantai Selatan Jawa dengan Melabuh “Uba Rambe” di tengah laut. Uba Rambe adalah sesaji atau sesajen yang berupa nasi tumpeng, kepala kambing, ayam dan aneka makanan kecil tradisional lainnya.

Untuk masyarakat Jawa pedalaman, ritual tradisi 1 Sura berupa Sedekah Gunung Merapi di Kabupaten Boyolali dan Ritual Mendaki Puncak Sangalikur di Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus.

8. Upacara Rabo Pungkasan Wonokromo Pleret

Upacara rabo

Upacara Rabo Pungkasan Wonokromo Pleret adalah salah satu upacara adat yang ada di Yogyakarta atau lebih tepatnya berada di Desa Wonokromo, Pleret, Kabupaten Bantul. Upacara adat ini biasanya diselenggarakan pada hari Rabu terakhir (Rabo Pungkasan) pada bulan Syafar yang dimaksudkan sebagai wujud ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pusat kegiatan upacara ini diadakan di depan Masjid dan seminggu sebelum acara ini berlangsung biasanya ada acara yang sifatnya keramaian (pesta rakyat). Seiring berjalannya waktu karena dianggap pesta rakyat ini mengganggu ibadah masjid maka kegiatan upacara ini dipindahkan ke depan Balai Desa di lapangan Wonokromo.

Dalam Upacara Rabo Pungkasan banyak acara kegiatan yang dilakukan yang bersifat hiburan seperti Perayaan Pasar Malam Sekaten. Puncak acaranya sendiri berupa Kirab Lemper Raksasa dari Masjid Wonokromo menuju Balai Desa Wonokromo. Kirab ini di awali pasukan kraton Ngayogyakarta, kemudian lemper raksasa, dan kelompok kesenian rakyat seperti Shalawatan, kubrosiswo, rodat dan sebagainya.

Pada akhir upacara, lemper tesebut akan dibagikan kepada masyarakat karena ini dianggap akan memberikan berkah tersendiri bagi mereka yang bisa membawa pulang lemper tersebut.

Lanjut hal 3 >>

Suka artikel ini?
Advertisement
Advertisement Suka artikel ini?

Tags:

Pages: 1 2 3


About the Author

Redaksi

Tim redaksi jogjastudent.com | Portal informasi Mahasiswa Yogyakarta, email: [email protected]



Back to Top ↑

error: Content is protected !!
UA-51666407-2